Pemuda adalah harapan bangsa. Gambaran keadaan pemuda saat ini adalah cerminan bangsa ke depannya. Oleh sebab itu, Indonesia sebagai negara multi masalah mutlak membutuhkan generasi-generasi pembaharu yang akan mengubah Indonesia dari negara multi masalah menjadi negara multi peluang. Faktanya, hal itu bukanlah pekerjaan segampang membalikkan telapak tangan. Ada banyak masalah yang terjadi di negeri ini, Indonesia. Negeri ini bahkan sudah bergelar negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Tidakkah itu turut mencoreng Islam sebagai agama rahmatan lil’ alamin? Permasalahan bangsa yang terjadi dewasa ini amatlah beragam dan kompleks. Mulai dari masalah pendidikan, sosial, ekonomi, pertahanan, hukum, dll. Sektor pendidikan yang merupakan sektor pembangun manusia dijejali masalah yang tak terhitung jumlahnya. Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan yang ditunjukkan dengan peringkat Human Development Index yang terus menurun dari tahun ke tahun. Dari 174 negara di dunia, Indonesia berada pada urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Survei yang dilakukan oleh Political and Economic Risk Consultant (PERC) mengatakan kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia dan daya saing Indonesia adalah rendah menurut The World Economic Forum1. Belum lagi, negeri ini diguncang oleh berbagai permasalahan integritas, seperti yang terjadi di Jakarta tahun 1998 hingga permasalahan ekonomi dimana hutang Indonesia akan mencapai Rp. 1.807,5 triliun pada 20112. Sungguh, permasalahan yang hanya bukan tanggung jawab pemerintah untuk menyelesaikannya. Kita pun, sebagai pemuda Islam, punya tanggung jawab disini. Lalu apa peran pemuda? Dari seluruh penduduk Indonesia yang diprediksi berjumlah 232 juta jiwa pada 20103, 63 juta jiwa diantaranya adalah pemuda4, berarti terdapat hampir 25% potensi pemuda.
Terilhami dengan salah satu sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa pintu rezeki manusia terbanyak berasal dari dagang atau dengan kata lain wirausaha. Dan itulah, salah satu potensi kekuatan pemuda Indonesia, bergerak melalui bidang yang selama ini bergulat akrab dengan manusia, yaitu ekonomi. Betapa tidak, setiap harinya kita pasti akan menyentuh dunia ekonomi itu, bahkan kebutuhan dasar manusia, seperti rohani, fisik, dll bertautan erat dengan ekonomi. Makan misalnya, siapa yang bisa memisahkan manusia dari ini? Padahal jumlah manusia sangat banyak dan mereka rata-rata makan tiga kali sehari, wah..sekilas bisa dibayangkan betapa menguntungkannya potensi wirausaha di bidang makanan, belum lagi apabila merambah ke industri pakaian, dll. Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah SAW. Seorang sosiolog, David McClelland berpendapat suatu negara bisa menjadi makmur bila ada wirausaha atau entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk. Singapura contohnya, salah satu kemajuan pesat yang dialami Singapura adalah disebabkan meningkatnya jumlah wirausaha dari 2,1% (2001) menjadi 7,2% (2009), sedangkan Indonesia hanya 0,18% (sekitar 400.000 orang)5.
Tak bisa dipungkiri saat ini kita berada pada saat dimana segala sistem berkiblat pada barat. Dan memang sesuai janji Allah, apabila bukan dengan sistem Allah maka tunggulah kehancurannya. Sistem ekonomi barat yang kita agung-agungkan selama ini perlahan-lahan mulai menunjukkan kelemahan dan perjalanan ke arah kehancuran. Sebagai contoh Federal Reserve, bank sentral di Amerika Serikat, dimana seluruh petingginya merupakan Yahudi dan jelas mereka berazas riba, pada awal tahun 2008 didera kombinasi masalah seperti meningkatnya inflasi, runtuhnya pasar properti, krisis pinjaman bank, dan melemahnya dolar yang semuanya akan dapat mengakibatkan runtuhnya perekonomian Amerika6. China sebagai kekuatan ekonomi kuat yang muncul baru-baru ini juga bukan tanpa masalah dan kekhawatiran. Meskipun kinerja perekonomian China begitu mengesankan dengan laju pertumbuhan lebih dari 10%, kepemimpinan partai komunis tetap berhadapan dengan tantangan yang luar biasa yaitu bagaimana mengintegrasikan orang-orang dari wilayah pedalaman ke dalam pasukan tenaga kerjanya, karena populasi China yang begitu besar tentu saja ini bukan masalah mudah. Sekali lagi karena ini luar biasa sulitnya dan tidak dapat diprediksikan, kita tak pernah tahu akan masa depan perekonomian China6. Jepang sebagai macan asia lainnya memiliki kondisi yang tidak berbeda jauh juga. Ternyata Jepang memiliki sebuah rahasia kecil, yaitu gunungan utang yang membayangi perekonomian Jepang. Apabila di perhatikan semua institusi di Jepang dipenuhi utang jangka panjang pemerintah (dikenal dengan nama JGB). Bila para pejabat menaikkan suku bunga terlalu cepat dan terlalu tinggi demi memperbaiki pengembalian kepada para penabung, Jepang akan tiba-tiba berhadapan dengan krisis bursa obligasi nasional6. Dan itulah permasalahan utama di Jepang.
Sekarang, mari sekilas melihat kepada apa yang Islam ajarkan. Dalam sebuah hadist Rasulullah sudah memberitahukan cara mengelola keuangan. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash disampaikan, “Pada saat haji Wada’, Rasulullah SAW mengunjungiku yang sedang sakit keras. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang memiliki harta yang banyak dan tidak ada yang mewarisi hartaku, kecuali anak perempuanku satu-satunya. Jika demikian, bolehkah aku menyedekahkan dua pertiga dari hartaku?’ Nabi SAW menjawab, ‘Tidak boleh’. Aku bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau aku sedekahkan separuh dari hartaku, ya Rasulullah?’, Nabi SAW menjawab, ‘Juga tidak boleh’. Aku kembali bertanya, ‘Kalau sepertiga?’ Mendengar itu Nabi SAW bersabda, ‘Kalau sepertiga boleh, dan itupun sudah banyak. Sebab seandainya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan papa, meminta-minta kepada manusia’ (HR.Tirmidzi). Dari hadist ini bisa disimpulkan bahwa orientasi kehidupan seorang Muslim adalah akhirat, sehingga segala amalan-amalan yang bisa menguntungkan secara akhirat haruslah menjadi prioritas. Berikutnya kita bisa belajar dari salah satu sahabat Rasulullah SAW, yang terkenal akan kekayaannya, yaitu Abdurrahman bin Auf dimana salah satu kunci kesuksesannya adalah melalui sedekah. Seperti janji Allah, Allah akan melipatgandakan harta yang digunakan dalam sedekah mulai dari 10 hingga 700 kali lipat lewat jalan yang tidak pernah manusia pikirkan (QS. 2: 260 dan QS. 6:160).
Husein Sahata dan Mas’ud Alam Choudhory meringkas apa yang disebut etika bisnis dalam Islam sebagai berikut:
(1) Tujuan bisnis (entrepreneurship) adalah beribadah kepada Allah dan memakmurkan bumi (QS.51: 56-57).
(2) Adanya keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan jiwa dan jasmani (QS.28:77)
(3) Mendapatkan rezeki yang diiringi tawakal dan takwa kepada Allah SWT (QS.67:15)
(4) Usaha halal dan hindari yang haram (QS.6:100)
(5) Free-interest system (QS.2:278-279)
(6) Sistem bagi hasil
(7) Joint venture, skema kerja dan bisnis dalam bentuk penyertaan modal. Investasi diarahkan kepada equity base fund daripada debt base fund.
(8) Keberkahan dalam bisnis dan kedermawanan (QS.16:71)
(9) Mengeluarkan zakat harta (QS.9:103)
(10) Jujur, amanah dan paham aspek perdagangan (QS.2:177)7
Robert Malthus mengatakan bahwa jumlah peningkatan populasi manusia mengikuti deret ukur (1,2,4,16,..) dan pertumbuhan makanan mengikuti deret hitung (1,2,3,4,…), bila mengikuti teori ini maka suatu saat akan terjadi kelaparan besar-besaran padahal Allah SWT berfirman dalam QS.11: 6 “Dan tidak satu pun makhluk bernyawa di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya..”. Dan memang pada kenyataannya potensi makanan itu berlimpah ruah di bumi ini, mulai dari pertanian, hingga perikanan yang mendominasi dua pertiga luas permukaan bumi kita. Masa iya tidak mampu mencukupi? Dalam Islam, masalahnya adalah bukan pada produksi tapi pada distribusi. Sesuai firman Allah SWT dalam QS. 59:7 “Harta rampasan fa’i yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (yang berasal) dari penduduk beberapa negeri, adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang dalam perjalanan, agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.”
Rasulullah SAW juga telah jauh-jauh hari memperingatkan pentingnya wirausaha, selain beliau sendiri yang menjadi contoh langsungnya dengan sudah berdagang pada usia yang sangat muda dan terkenal akan kejujurannya saat berdagang, beliau pun pernah bersabda bahwa 90% pintu rezeki itu melalui berdagang alias wirausaha. Bukan hanya Rasulullah SAW yang menjadi contoh, nabi-nabi lain pun banyak yang berprofesi sebagai wirausaha, sebut saja Nabi Daud AS yang berprofesi sebagai pandai besi, Nabi Musa AS yang seorang penggembala, dll. Mencari nafkah atau dalam konteks ini kita menyebutnya wirausaha merupakan salah satu ibadah kita kepada Allah. Banyak ayat quran yang memerintahkan untuk mencari rezeki antara lain QS.78:11, QS.62:10.
Begitu banyak peluang berserakan di hadapan kita, peluang entrepreneurship. Yang apabila dijalankan sesuai prinsip Islam akan membawa kemanfaatan yang insyaallah tidak hanya untuk kita, tapi ke depannya merupakan jalan keluar bagi permasalahan bangsa yang sudah kronis ini. Mari membudidayakan entrepreneur dan Islam sebagai acuan, karena semua telah diatur-Nya dalam Al Quran. Berawal dengan niat baik, dan ingatlah prinsip keadilan dalam menjalankan apapun pilihan usaha kita ke depannya. QS.83:1-3 “(1) Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (2) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, (3) dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi”. Mari menjadi Bill Gates yang sukses menjadi inspirasi banyak orang, menjadi Bill gates versi Muslim yang insyaallah sukses, menginspirasi, dan dicintai Allah SWT. Wallahu ‘alam bishowab.
Daftar Pustaka:
1 Al-Jawi, M.S. 2006. Pendidikan di Indonesia: Masalah dan Solusinya. Disampaikan pada Seminar Nasional “Potret Pendidikan Indonesia Antara Konsep, Reality, dan Solusi.”
2 Detikfinance. 2010. Jumlah Utang Indonesia Tahun 2011. http://www.peluangbisnisali.co.cc/2010/08/jumlah-utang-indonesia-tahun-2011.html (17 Oktober 2010).
3 El-Haq, P.S & Soedjono, E.S. Potensi Lumpur Tinja Manusia Sebagai Penghasil Biogas.
4 Berita Sore. 2010. Separuh dari 63 juta jiwa remaja di Indonesia rentan berperilaku tidak sehat. http://beritasore.com/2010/07/05/separuh-dari-63-juta-jiwa-remaja-di-indonesia-rentan-berprilaku-tidak-sehat/ (17 Oktober 2010).
5 Sumintar. 2009. Merubah Indonesia dengan memperbanyak entrepreneurship. http://www.sumintar.com/merubah-indonesia-dengan-memperbanyak-entrepreneurship.html (17 Oktober 2010).
6 Smick, D.M. 2009. Kiamat Ekonomi Global. Jakarta: Penerbit Daras.
7 Nurosid, Harun. 2010. Bisnis dalam Islam. http://pagenjahan.blogspot.com/2010/10/bisnis-dalam-islam.html (18 Oktober 2010)
Tags: Bill Gates, Enterpreneurship, Muslim, Rasulullah
0